Rabu, 16 Desember 2015

TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
      Teori interaksionisme-simbolik dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti Goerge H.Mead dan Herbert Blummer.Awal perkembangan interaksionisme simbolik dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati.
      Istilah teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dalam lingkup  sosiologi, sebenarnya ide ini telah dikemukakan oleh George Herbert Mead (guru  Blumer) yang kemudian dimodifikai oleh Blumer untuk tujuan tertentu.  Karakteristik dasar ide ini adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu. Interaksi yang terjadi antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang nereka ciptakan. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.

1.2  Rumusan Masalah
è Bagaimana Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik ?
è Apa Pokok Pikiran Teori Interaksionisme Simbolik tentang masyarakat ?
è Siapakah Tokoh Utama Teori Interaksionisme Simbolik ?






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik
     Interaksionisme simbolik lahir dari tradisi filsafat pragmatisme Amerika, pendekatan yang pada akhir abad ke-19 dielaborasi oleh Charles Pierce, William Jamel, dan John Dewey. Para pimikir ini menentang asumsi world-view mekanistik dan asumsi dualistik rasionalisme klasik, filsafat yang berkuasa di masa mereka (Shalin, 1991). Tidak seperti kaum rasonalis, mereka melihat realitas itu dinamis, individu adalah knower aktif, maka (meanings) terkait dengan perspektif-perspektif dan tindakan sosial, serta pengetahuan adalah daya instrumental yang memungkinkan orang memecahkan masalah dan menata ulang dunia (Denzin, 1996; Joas, 1996; Shalin, 1986; Thayer, 1981).[1]
     Interaksionisme simbolik merupakan aliaran sosiologi Amerika yang lahir dari tradisi Psikologi. Karya-karya para psikolog Amerika seperti William James, James Mark Baldwin dan Jonh Dewey telah mempengaruhi sosiologi Charles H. Cooley, yang kemudian membantu pengembangan teori psikologi sosial dalam sosiologi Amerika. Menurut Ditum Cooley (1930) imajinasi yang dimiliki manusia merupakan fakta masyarakat yamg solid dan berfungsi sebagai suatu warisan realitas dunia subjektif. William Isaac Thomas, seangkatan dengan Cooley, juga menekankan perlunya mempelajari fakta subjektif, tetapi tidak berarti fakta-fakta objektif mesti diabaikan. Dikemukakannya sebuah contoh ; bilamana orang membatasi sesuatu sebagai hal yang riil, maka batasan-batasan subjektif tentang sesuatu itu memiliki konsekuensi-konsekuensi yang riil, (Thomas, 41-43). Apa yang diwariskan Thomas bagi para sosiologi ialah penegertian-pengertian subjektif yang dikaitkan pada fenomena yang mempunyai hasil atau konsekuensi-konsekuensi objektif. Walau dalam sejarah interaksi simbolis, Cooley dan Thomas merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya filosof George Herbert Mead, seorang warga Amerika awal abad ke-19 dan seangkatan dengan mereka, yang sering dianaggap sebagai sesepuh yang paling berpengaruh dari perspektif ini.[2]
2.2 Pokok Pikiran Teori Interaksionisme Simbolik Tentang Masyarakat
            Menurut blumer, pokok pikiran interaksi simbolik ada 3:
è Bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning). Maksudnya, manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut.
            Sebagai contoh, dalam film Kabayan, tokoh Kabayan sebenarnya akan memiliki makna yang berbeda-beda berpulang kepada siapa atau bagaimana memandang tokoh tersebut. Ketika Kabayan pergi ke kota besar, maka masyakat kota besar tersebut mungkin akan memaknai Kabayan sebagai orang kampung, yang kesannya adalah norak, kampungan. Nah, interaksi antara orang kota dengan Kabayan dilandasi pikiran seperti ini. Padahal jika di desa tempat dia tinggal, masyakarat di sana memperlakukan Kabayan dengan cara yang berbeda, dengan perlakuan lebih yang ramah. Interaksi ini dilandasi pemikiran bahwa Kabayan bukanlah sosok orang kampung yang norak.
            Once people define a situation as real, its very real in its consequences. Pemaknaan tentang apa yang nyata bagi kita pada hakikatnya berasal dari apa yang kita yakini sebagai kenyataan itu sendiri. Karena kita yakin bahwa hal tersebut nyata, maka kita mempercayainya sebagai kenyataan.
            Dalam contoh yang sama, ketika kita memaknai Kabayan sebagai orang yang kampungan, maka kita menganggap pada kenyataannya Kabayan memang adalah orang yang kampungan. Begitu pula sebaliknya.
è Makna itu berasal dari interaksi sosial seseorang dengan sesamanya. Maksudnya, Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Makna tidak bisa muncul ‘dari sananya’. Makna berasal dari hasil proses negosiasi melalui penggunaan bahasa (language)—dalam perspektif interaksionisme simbolik.
            Di sini, Blumer menegaskan tentang pentingnya penamaan dalam proses pemaknaan. Sementara itu Mead juga meyakini bahwa penamaan simbolik ini adalah dasar bagi masyarakat manusiawi (human society).
            Ketika kita menyebut Kabayan tadi dengan bahasa kampungan, konsekuensinya adalah kita menarik pemaknaan dari penggunaan bahasa ‘kampungan’ tadi. Kita memperoleh pemaknaan dari proses negosiasi bahasa tentang kata ‘kampungan’. Makna dari kata ‘kampungan’ tidaklah memiliki arti sebelum dia mengalami negosiasi di dalam masyarakat sosial di mana simbolisasi bahasa tersebut hidup. Makna kata kampungan tidak muncul secara sendiri, tidak muncul secara alamiah. Pemaknaan dari suatu bahasa pada hakikatnya terkonstruksi secara sosial
è Makna itu diperlukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative prosess), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Intinya, Blumer hendak mengatakan bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima seseorang, kecuali setelah individu itu menafsirkannya terlebih dahulu. [3]
2.3 Tokoh Utama Teori Interaksionisme Simbolik
        George Herbert Mead
            George Herbert Mead dilahirkan di South Hadley, Massachussetts, Amerika pada 27 Februari 1863, anak dari Hiram Mead dan Elizabeth Storrs Billings. George Herbert Mead dipandang sebagai tokoh utama dikalangan penganut interaksionisme terdahulu. Mead dipandang sebagai orang pertama yang menjelaskan doktrin filsafat interaksionisme simbolis yang benar-benar konsisten. George Herbert Mead adalah salah satu pencetus paham interaksi simbolis, dan ia mengemukakan bahwa makna atau pemahaman muncul dari proses interaksi manusia baik secara verbal maupun nonverbal. Melalui tindakan dan tanggapan, kita membentuk makna tentang suatu kata dan tindakan serta memahami suatu peristiwa tertentu.
            Mead menyatakan bahwa individu melakukan tindakan (dalam pikiran, abstrak ide) yang belum dapat diamati. Dalam otak, proses belajar mental bersifat tertutup sebelum dimulai tindakan sebenarnya (nyata, berupa perilaku, dapat dilihat). Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminology yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status, dll) dan pesan verbal (kata-kata, suara, dll) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlihat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk symbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant symbol). Mead tertarik mengkaji interaksi social, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan symbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh symbol yang diberikan orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melaui pemberia isyarat symbol, kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca symbol yang ditampilkan orang lain.
        Herbert Blumer
            Herbert Blumer lahir 7 Maret 1900, di St. Louis, Missouri. Ia bekarier di Fakultas Sosiologi pada Universitas Chicago tahun 1927-1952. Blumer adalah murid dari George H. Mead, yang juga mengajar di Universitas Chicago. Setelah Mead meninggal di tahun 1931, Blumer banyak mengganti posisi gurunya tersebut. Tidak heran jika gagasan Blumer banyak mengacu pada tradisi keilmuan yang telah dirintis oleh gurunya itu. Tidak main-main, waktu Blumer untuk mengembangkan gagasan Mead sampai 25 tahun. bahwa Blumer lebih banyak dipengaruhi oleh Mead dalam berbagai gagasan psikologi sosial-nya  mengenai teori interaksionisme simbolik. Kendatipun demikian, seorang blumer tetap memiliki kekhasan-kekhasan dalam pemikirannya, dan terutama ia mampu membangun suatu teori dalam sosiologi yang berbeda dengan “gurunya”,  Mead. Pemikiran blumer pada akhirnya memiliki pengaruh yang cukup luas dalam berbagai riset sosiologi. Bahkan blumer pun berhasil mengembangkan teori ini sampai pada tingkat metode yang cukup rinci.[4]


3.1 Kesimpulan
     Teori interaksi simbolik adalah tindakan sosial sebagai sebuah perilaku manusia pada saat person memberikan suatu makna subyektif terhadap perilaku yang ada dipengaruhi oleh struktur sosial yang membentuk atau menyebabkan perilaku tertentu yang kemudian membentuk simbolisasi dalam interaksi sosial masyarakat yang menuntut setiap individu mesti proaktif, refleksif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang unik, rumit dan sulit diinterpretasikan.
     Bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Cara kerja teori ini berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan. Interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial.
     Inti dari teori ini dalam aplikasi kehidupan sehari-hari: Mencoba mengajarkan individu untuk selalu bersipat empati (memahami perasaan dan pikiran orang lain, mengerti, memahami, Memposisikan diri kita sesuai dengan apa yang sedang orang lain rasakan) Karena dengan seperi itu hubungan sosial akan terjalin dengan baik, dan akan banyak kebaikan yang terlahir karena ini, serta dunia ini akan damai.














DAFTAR PUSTAKA

Ritzer G. & Smart B, Handbook Teori Sosial, Bandung, Penerbit Nusa Media, 2011

PolamaMargaret, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1984



[1] George Ritzer & Barry Smart, Handbook Teori Sosial, Bandung, Penerbit Nusa Media, 2011, hal 428
[2] Margaret M. Polama, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1984 hal 257-258
[3] https://yearrypanji.wordpress.com/2008/03/17/teori-interaksionisme-simbolik
[4] http://dpict92.blogspot.com/2012/04/teori-interaksionisme-simbolik.html

1 komentar:

  1. Relevansi teori dengan kasus sekarang yang banyak terjadi itu bagaimana?

    BalasHapus