BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Teori interaksionisme-simbolik
dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti
Goerge H.Mead dan Herbert Blummer.Awal perkembangan interaksionisme simbolik
dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang
dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan
George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa
diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati.
Istilah teori ini pertama kali
diperkenalkan oleh Herbert Blumer dalam lingkup sosiologi, sebenarnya ide
ini telah dikemukakan oleh George Herbert Mead (guru Blumer) yang
kemudian dimodifikai oleh Blumer untuk tujuan tertentu. Karakteristik dasar
ide ini adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam
masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu. Interaksi yang terjadi
antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang nereka ciptakan. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk
membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk
membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.
1.2
Rumusan
Masalah
è Bagaimana Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik ?
è Apa Pokok Pikiran Teori Interaksionisme Simbolik tentang masyarakat
?
è Siapakah Tokoh Utama Teori Interaksionisme Simbolik ?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme simbolik
lahir dari tradisi filsafat pragmatisme Amerika, pendekatan yang pada akhir
abad ke-19 dielaborasi oleh Charles Pierce, William Jamel, dan John Dewey. Para
pimikir ini menentang asumsi world-view mekanistik dan asumsi dualistik
rasionalisme klasik, filsafat yang berkuasa di masa mereka (Shalin, 1991).
Tidak seperti kaum rasonalis, mereka melihat realitas itu dinamis, individu
adalah knower aktif, maka (meanings) terkait dengan
perspektif-perspektif dan tindakan sosial, serta pengetahuan adalah daya
instrumental yang memungkinkan orang memecahkan masalah dan menata ulang dunia
(Denzin, 1996; Joas, 1996; Shalin, 1986; Thayer, 1981).[1]
Interaksionisme simbolik
merupakan aliaran sosiologi Amerika yang lahir dari tradisi Psikologi.
Karya-karya para psikolog Amerika seperti William James, James Mark Baldwin dan
Jonh Dewey telah mempengaruhi sosiologi Charles H. Cooley, yang kemudian
membantu pengembangan teori psikologi sosial dalam sosiologi Amerika. Menurut
Ditum Cooley (1930) imajinasi yang dimiliki manusia merupakan fakta masyarakat
yamg solid dan berfungsi sebagai suatu warisan realitas dunia subjektif.
William Isaac Thomas, seangkatan dengan Cooley, juga menekankan perlunya
mempelajari fakta subjektif, tetapi tidak berarti fakta-fakta objektif mesti
diabaikan. Dikemukakannya sebuah contoh ; bilamana orang membatasi sesuatu
sebagai hal yang riil, maka batasan-batasan subjektif tentang sesuatu itu
memiliki konsekuensi-konsekuensi yang riil, (Thomas, 41-43). Apa yang
diwariskan Thomas bagi para sosiologi ialah penegertian-pengertian subjektif
yang dikaitkan pada fenomena yang mempunyai hasil atau konsekuensi-konsekuensi
objektif. Walau dalam sejarah interaksi simbolis, Cooley dan Thomas merupakan
tokoh terpenting, tetapi hanya filosof George Herbert Mead, seorang warga
Amerika awal abad ke-19 dan seangkatan dengan mereka, yang sering dianaggap
sebagai sesepuh yang paling berpengaruh dari perspektif ini.[2]
2.2 Pokok Pikiran Teori Interaksionisme Simbolik Tentang Masyarakat
Menurut blumer,
pokok pikiran interaksi simbolik ada 3:
è Bahwa
manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning). Maksudnya, manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya
pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain
tersebut.
Sebagai contoh, dalam film Kabayan,
tokoh Kabayan sebenarnya akan memiliki makna yang berbeda-beda berpulang kepada
siapa atau bagaimana memandang tokoh tersebut. Ketika Kabayan pergi ke kota
besar, maka masyakat kota besar tersebut mungkin akan memaknai Kabayan sebagai
orang kampung, yang kesannya adalah norak, kampungan. Nah, interaksi antara
orang kota dengan Kabayan dilandasi pikiran seperti ini. Padahal jika di desa
tempat dia tinggal, masyakarat di sana memperlakukan Kabayan dengan cara yang
berbeda, dengan perlakuan lebih yang ramah. Interaksi ini dilandasi pemikiran
bahwa Kabayan bukanlah sosok orang kampung yang norak.
Once people define a situation as
real, its very real in its consequences. Pemaknaan tentang apa yang nyata
bagi kita pada hakikatnya berasal dari apa yang kita yakini sebagai kenyataan
itu sendiri. Karena kita yakin bahwa hal tersebut nyata, maka kita
mempercayainya sebagai kenyataan.
Dalam contoh yang sama, ketika kita
memaknai Kabayan sebagai orang yang kampungan, maka kita menganggap pada
kenyataannya Kabayan memang adalah orang yang kampungan. Begitu pula
sebaliknya.
è Makna itu
berasal dari interaksi sosial seseorang dengan sesamanya. Maksudnya, Makna
bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Makna
tidak bisa muncul ‘dari sananya’. Makna berasal dari hasil proses negosiasi
melalui penggunaan bahasa (language)—dalam perspektif interaksionisme
simbolik.
Di sini, Blumer menegaskan tentang
pentingnya penamaan dalam proses pemaknaan. Sementara itu Mead juga meyakini
bahwa penamaan simbolik ini adalah dasar bagi masyarakat manusiawi (human
society).
Ketika kita menyebut Kabayan tadi
dengan bahasa kampungan, konsekuensinya adalah kita menarik pemaknaan dari
penggunaan bahasa ‘kampungan’ tadi. Kita memperoleh pemaknaan dari proses
negosiasi bahasa tentang kata ‘kampungan’. Makna dari kata ‘kampungan’ tidaklah
memiliki arti sebelum dia mengalami negosiasi di dalam masyarakat sosial di
mana simbolisasi bahasa tersebut hidup. Makna kata kampungan tidak muncul
secara sendiri, tidak muncul secara alamiah. Pemaknaan dari suatu bahasa pada
hakikatnya terkonstruksi secara sosial
è Makna itu
diperlukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative
prosess), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.
Intinya, Blumer hendak mengatakan bahwa makna yang muncul dari interaksi
tersebut tidak begitu saja diterima seseorang, kecuali setelah individu itu
menafsirkannya terlebih dahulu. [3]
2.3 Tokoh Utama Teori Interaksionisme Simbolik
¶
George
Herbert Mead
George Herbert
Mead dilahirkan di South Hadley, Massachussetts, Amerika pada 27 Februari 1863,
anak dari Hiram Mead dan Elizabeth Storrs Billings. George
Herbert Mead dipandang sebagai tokoh utama dikalangan penganut interaksionisme
terdahulu. Mead dipandang sebagai orang pertama yang menjelaskan doktrin
filsafat interaksionisme simbolis yang benar-benar konsisten. George Herbert
Mead adalah salah satu pencetus paham interaksi simbolis, dan ia mengemukakan
bahwa makna atau pemahaman muncul dari proses interaksi manusia baik secara
verbal maupun nonverbal. Melalui tindakan dan tanggapan, kita membentuk makna
tentang suatu kata dan tindakan serta memahami suatu peristiwa tertentu.
Mead menyatakan bahwa individu
melakukan tindakan (dalam pikiran, abstrak ide) yang belum dapat diamati. Dalam
otak, proses belajar mental bersifat tertutup sebelum dimulai tindakan
sebenarnya (nyata, berupa perilaku, dapat dilihat). Mead tertarik pada
interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan
mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminology yang
dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik,
baju, status, dll) dan pesan verbal (kata-kata, suara, dll) yang dimaknai
berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlihat dalam suatu
interaksi merupakan satu bentuk symbol yang mempunyai arti yang sangat penting
(a significant symbol). Mead tertarik mengkaji interaksi social, dimana dua
atau lebih individu berpotensi mengeluarkan symbol yang bermakna. Perilaku
seseorang dipengaruhi oleh symbol yang diberikan orang lain, demikian pula
perilaku orang tersebut. Melaui pemberia isyarat symbol, kita dapat
mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca
symbol yang ditampilkan orang lain.
¶
Herbert Blumer
Herbert Blumer lahir 7 Maret 1900,
di St. Louis, Missouri. Ia bekarier di Fakultas Sosiologi pada Universitas
Chicago tahun 1927-1952. Blumer adalah murid dari George H. Mead, yang juga
mengajar di Universitas Chicago. Setelah Mead meninggal di tahun 1931, Blumer
banyak mengganti posisi gurunya tersebut. Tidak heran jika gagasan Blumer
banyak mengacu pada tradisi keilmuan yang telah dirintis oleh gurunya itu.
Tidak main-main, waktu Blumer untuk mengembangkan gagasan Mead sampai 25 tahun.
bahwa Blumer lebih banyak dipengaruhi oleh Mead dalam berbagai
gagasan psikologi sosial-nya mengenai teori interaksionisme simbolik.
Kendatipun demikian, seorang blumer tetap memiliki kekhasan-kekhasan dalam
pemikirannya, dan terutama ia mampu membangun suatu teori dalam sosiologi yang
berbeda dengan “gurunya”, Mead. Pemikiran blumer pada akhirnya memiliki
pengaruh yang cukup luas dalam berbagai riset sosiologi. Bahkan blumer pun berhasil
mengembangkan teori ini sampai pada tingkat metode yang cukup rinci.[4]
3.1 Kesimpulan
Teori interaksi simbolik adalah
tindakan sosial sebagai sebuah perilaku manusia pada saat person memberikan
suatu makna subyektif terhadap perilaku yang ada dipengaruhi oleh struktur
sosial yang membentuk atau menyebabkan perilaku tertentu yang kemudian
membentuk simbolisasi dalam interaksi sosial masyarakat yang menuntut setiap
individu mesti proaktif, refleksif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan
perilaku yang unik, rumit dan sulit diinterpretasikan.
Bahwa
interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang
bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis.
Cara kerja teori ini berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk
kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan.
Interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada
pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial.
Inti
dari teori ini dalam aplikasi kehidupan sehari-hari: Mencoba mengajarkan
individu untuk selalu bersipat empati (memahami perasaan dan pikiran orang
lain, mengerti, memahami, Memposisikan diri kita sesuai dengan apa yang sedang
orang lain rasakan) Karena dengan seperi itu hubungan sosial akan terjalin
dengan baik, dan akan banyak kebaikan yang terlahir karena ini, serta dunia ini
akan damai.
DAFTAR
PUSTAKA
Ritzer G. & Smart B, Handbook Teori Sosial, Bandung, Penerbit
Nusa Media, 2011
PolamaMargaret, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, Raja
Grafindo Persada, 1984
[1] George
Ritzer & Barry Smart, Handbook Teori Sosial, Bandung, Penerbit Nusa
Media, 2011, hal 428
[2] Margaret
M. Polama, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1984
hal 257-258
[3] https://yearrypanji.wordpress.com/2008/03/17/teori-interaksionisme-simbolik
[4] http://dpict92.blogspot.com/2012/04/teori-interaksionisme-simbolik.html
Relevansi teori dengan kasus sekarang yang banyak terjadi itu bagaimana?
BalasHapus