Rabu, 16 Desember 2015

LAPORAN HASIL OBSERVASI SUKU SAMIN


BAB I
PENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang
      Masyarakat boleh jadi memang tidak pernah “diam” , Masyarakat selalu bergerak, berkembang dan berubah. dinamika masyarakat ini terjadi bisa karena faktor internal yang inheren melekat dalam diri masyarakat.
      Para ahli filsafat, sejarah, ekonomi dan sosiologi telah mencoba untuk merumuskan prinsip-prinsip atau hukum-hukum perubahan-perubahan sosial. Banyak yang berpendapat bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia.
      Ahli lain berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. Kemudian, ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat periodik dan non-periodik. Pendapat-pendapat tersebut pada umumnya menyatakan bahwa perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian.
      Bhinneka Tungga Ika, berbeda-beda tetapi satu jua. Perbedaan adalah pemersatu yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya gaya akan pemandangan alam nan hijau tetapi juga kaya akan suku bangsa, ada ratusan suku bangsa di Indonesia salah satunya adalah Suku Samin yang bermukim di daerah Jawa Tengah.
      Observasi dilakukan di desa Karang Pace Klopoduwur Kecamatan Banjar Rejo Kabupaten Blora Jawa Tengah pada hari Selasa tanggal 22 September 2015.
II.                Rumusan Masalah
1.      Apa itu Perubahan Sosial ?
2.      Siapa itu Masyarakat Suku Samin ?
3.      Apa sajakah bentuk-bentuk perubahan sosial yang sudah terjadi ?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perubahan Sosial
            Perubahan sosial adalah proses dimana terjadinya perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaharuan yang diadopsi oleh para anggota sistem sosial yang bersangkutan.[1] Proses terjadinya perubahan sosial biasanya terdiri dari tiga tahap yaitu :
1.      Invensi, yakni proses di mana ideide baru diciptakan dan berkembang
2.      Difusi, yakni proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
3.      Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika pengguna atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat.[2]
      Perubahan sosial yang telah dikemukakan oleh para ahli :
1.      Kingsley Davis, mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat
2.      Mac Iver, peubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan dalam hubungan sosial. Hubungan antara anggota masyarakat dapat menimbulkan kerja sama ataupun perselisihan yang menunjukan keseimbangan dalam hubungan sosial
3.      Gillin dan Gillin, perubahan sebagi suatu variasi cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan dalam masyarakat
4.      Soemardjan, perubahan sosial meliputi segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat
5.      Harper, mendefinisikan perubahan sosial sebagai pengganti (perubahan) yang signifikan mengenai struktur sosial daam kurun waktu tertentu[3]
B.     Suku Samin
1.      Masyarakat Samin
      Masyarakat Samin adalah keturunan para pengikut Samin Seorontiko yang mengajarkan sedulur sikep, dimana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan.
      Samin Seosantiko sering juga disebut sebagai Raden Kohar. Ia masih berdarah bangsawan Majapahit yang hidup pada zaman kolonial Belanda. Karena alasan tertentu memutuskan meninggalkan gemerlap dunia kebangsawaan. Ia mendalami keilmuan spiritual yang saat itu sudah dimulai diintervensi oleh kepentingan kelompok tertentu, khususnya oleh agama-agama baru dan tata kehidupan kolonial. Mbah Samin mendalami sendiri nilai-nilai luhur serta beladiri menentang penjajahan Belanda dan pada akhirnya mengajarkan kepada murid-muridnya, begitu menoloknya sikap Mbah Samin terhadap tata kehidupan saat itu, sehingga sampai kini orang lain mengatakan dasar orang Samin pada tindak-tanduk serupa.
      Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun 70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah, jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata Samin bagi mereka mengandung makna negatif.
2.      Pokok Ajaran Saminisme
      Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu tidak suka mencuri, menolak membayar pajak dan menjadi bahan lelucon terutama dikalangan masyarakat Bojonegoro. Pokok ajaran Samin diantaranya adalah :
a)      Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama, yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
b)      Bersikap sabar dan jangan sombong.
c)      Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal namun hanya menanggalkan pakaiannya.
d)     Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati.
e)      Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapa unsur “ketidak jujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam berbentuk uang.
3.      Kebudayaan
      Sabagaimana paham lain yang paham dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga memiliki “kitab suci”. Kitab Suci itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri dari beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, Serat Lampahing Urip dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan oleh orang Samin.
      Ajaran yang ada dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten (pengukuhan kehidupan sejati) ditulis dalam bentuk puisi tembang yaitu genre puisi tradisional kesusasteraan jawa.
      Dengan mempedomani kitab itulah, orang Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah “lakonan sabar. Sabare dieling-eling Trokali dilakoni”
4.      Sistem Kekerabatan
      Dalam hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada umumnya, sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah kakek atau nenek.
      Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin memiliki tradisi untuk saling berkunjung terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh.


5.      Upacara dan Tradisi
      Upacara-upacara tradisi yang ada pada masyarakat Samin antara lain nyadran (bersih desa) sekaligus menguras sumber air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat. Tradisi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup yaitu kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana. Contoh salah satu tradisi yang ada pada Suku Samin adalah ketika malam Syuronan (tahun baru hijriah) meraka mengadakan sedekah bumi.
6.      Pernikahan
      Menurut masyarakat Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja (U)Tama” (anak yang mulia). Dalam ajaran Samin, dalam perkawinan seorang pengantin laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian : “sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (kali ini) mengawini seorang perempuan bernama...... saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua”.
      Dalam beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga Samin. Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahnya hanya orang pengantin.
7.      Sikap terahadap lingkungan
      Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana tidak berlebih-lebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka bagai Ibu sendiri, artinya tanah memberi mereka kehidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa saja yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saya yaitu penghujan an kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekanyaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.
8.      Bahasa
      Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Jawa Ngoko dan bagi mereka menghormati orang lain bukan hanya sekedar dari bahasa apa yang digunakan tetapi juga dengan sikap dan perbuatan apa yang ditunjukan.[4]
C.    Perubahan Sosial Suku Samin dari Hasil Penelitian
            Seiring berkembangnya jaman dan kemajuan pengetahuan yang ada, selalu ada perubahan yang menyertainyainya. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Samin ada beberapa perubahan yang bisa kita lihat, antara lain :
1.      Teknologi
      Dari sisi teknologi dengan seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman menyatakan bahwa masyarakat Samin juga sudah mulai melakukan sebuah perubahan dari sisi materialnya. Yang ditunjukan dengan bangunan rumah sudah seperti pada umumnya meski cuma hanya beberapa saja dan sebagian besar masyrakat Samin sendiri sudah bisa menggunakan berbagai macam alat teknologi seperti Handphone dan Laptop. Dan sebagian masyarakatnya juga sudah ada yang memiliki sepeda motor, televisi dan lain-lain. Disana juga sudah ada listrik Peralatan rumah tangga masih mix ada yang modern dan ada yang tradisional.  
2.      Pakaian
      Pakaian masyarakat Samin dahulu cenderung sering memakai baju kampret hitam dengan udeng untuk laki-laki dan tanpa alas kaki untuk perumpuan mereka memakai kebaya tetapi itu tidak semua dan tidak selalu memakai baju tersebut, dan masyarakat Samin sekarang sudah memakai kaos, kemeja, rok, celana jins (lepis) dan alas kaki.
3.      Mata Pencaharian
      Mata pencaharian masyarakat Samin adalah bertani, berternak (sapi dan kambing). Dan seperti yang sudah ketahui bahwa pada dahulunya masyarakat Samin tidak boleh berdagang dikarenakan mereka percaya bahwa berdagang identik dengan ketidak jujurannya tetapi sekarang masyarakat Samin sudah boleh untuk berdagang atau ikut bekerja dengan orang lain dan ada juga yang anak merantau ke Jakarta.
4.      Pendidikan
      Bagi sebagian besar masyarakat beranggapan pendidikan adalah satu hal yang sangat penting untuk kehidupannya tetapi berbeda bagi masyarakat Samin dahulu mereka beranggapan bersekolah adalah bentuk kolonialisme Belanda dan para orang tua khawatir anaknya menjadi minteri apalagi bagi para Samin perempuan, Mereka tidak bersekolah hanya membantu orang tua di rumah dan di sawahnya. Tetapi tidak untuk sekarang mereka para anak-anak sudah diperbolehkan untuk bersekolah  bahkan sudah ada yang menjadi sarjana.
5.      Membayar Pajak
      Masyarakat Samin terdahulu meraka selalu menolak dan tidak mau untuk membayar pajak karena mereka beranggapan itu sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap Kolonial Belanda. Tetapi sekarang masyarakat Samin sudah mau membayar pajak.
6.      Kondisi Fisik Desa           
          

III.             Kesimpulan
      Masyarakat Samin merupakan masyarakat yang mempunyai ciri khusus yang menjadi identitas masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari. Identitas inilah yang selalu dipertahankan oleh masyarakatnya walaupun sudah banyak perubahan yang telah terjadi dalam ruang lingkup masyarakat Samin sendiri ataupun dari masyarakat luar. Namun dengan berkembangnya zaman masyarakat Samin dengan berbagai keunikan dan berkembangnya ilmu pengetahuan yang yang dihadapi oleh mereka baik dari segi teknologi, pendidikan, mata pecaharian dan lain sebagainya itu tidak akan merubah sistem kekerabatan mereka karena mereka selalu menjaga sikap mereka sesuai dengan pokok ajaran yang mereka percayai atau lakukan setiap hari. Perubahan bisa dilihat dari segi internal ataupun eksternal. Faktor internal keinginan yang hadir dari diri sendiri atau masyarakat Samin sendiri sedangkan faktor eksternal mendapatkan pengaruh dari luar masyarakat Samin.
      Perubahan yang terjadi pada masyarakat Samin bisa dilihat dari berbagai aspek (fisik dan non fisik). Kemajuan teknologi dan juga pengetahuan mereka juga sudah bisa dan mudah bagi sebagian masyarakat Samin mereka juga menggunakan alat teknologi sebagai kebutuhan mereka sehari-hari. Masyarakat Samin juga sudah ada yang mengenyam dunia pendidikan sampai ke perguruan tinggi dan adapun yang sudah menjadi sarjana yang bisa membimbing mereka demi kemajuan desa mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial : Teori, Aplikasi dan Pemecahanya, (Jakarta : Kencana, 2011)
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012)




[1] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial : Teori, Aplikasi dan Pemecahanya, (Jakarta : Kencana, 2011) hlm
[2] Ibid,
[3] Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012) hlm 4-5

TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
      Teori interaksionisme-simbolik dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti Goerge H.Mead dan Herbert Blummer.Awal perkembangan interaksionisme simbolik dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati.
      Istilah teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dalam lingkup  sosiologi, sebenarnya ide ini telah dikemukakan oleh George Herbert Mead (guru  Blumer) yang kemudian dimodifikai oleh Blumer untuk tujuan tertentu.  Karakteristik dasar ide ini adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu. Interaksi yang terjadi antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang nereka ciptakan. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.

1.2  Rumusan Masalah
è Bagaimana Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik ?
è Apa Pokok Pikiran Teori Interaksionisme Simbolik tentang masyarakat ?
è Siapakah Tokoh Utama Teori Interaksionisme Simbolik ?






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik
     Interaksionisme simbolik lahir dari tradisi filsafat pragmatisme Amerika, pendekatan yang pada akhir abad ke-19 dielaborasi oleh Charles Pierce, William Jamel, dan John Dewey. Para pimikir ini menentang asumsi world-view mekanistik dan asumsi dualistik rasionalisme klasik, filsafat yang berkuasa di masa mereka (Shalin, 1991). Tidak seperti kaum rasonalis, mereka melihat realitas itu dinamis, individu adalah knower aktif, maka (meanings) terkait dengan perspektif-perspektif dan tindakan sosial, serta pengetahuan adalah daya instrumental yang memungkinkan orang memecahkan masalah dan menata ulang dunia (Denzin, 1996; Joas, 1996; Shalin, 1986; Thayer, 1981).[1]
     Interaksionisme simbolik merupakan aliaran sosiologi Amerika yang lahir dari tradisi Psikologi. Karya-karya para psikolog Amerika seperti William James, James Mark Baldwin dan Jonh Dewey telah mempengaruhi sosiologi Charles H. Cooley, yang kemudian membantu pengembangan teori psikologi sosial dalam sosiologi Amerika. Menurut Ditum Cooley (1930) imajinasi yang dimiliki manusia merupakan fakta masyarakat yamg solid dan berfungsi sebagai suatu warisan realitas dunia subjektif. William Isaac Thomas, seangkatan dengan Cooley, juga menekankan perlunya mempelajari fakta subjektif, tetapi tidak berarti fakta-fakta objektif mesti diabaikan. Dikemukakannya sebuah contoh ; bilamana orang membatasi sesuatu sebagai hal yang riil, maka batasan-batasan subjektif tentang sesuatu itu memiliki konsekuensi-konsekuensi yang riil, (Thomas, 41-43). Apa yang diwariskan Thomas bagi para sosiologi ialah penegertian-pengertian subjektif yang dikaitkan pada fenomena yang mempunyai hasil atau konsekuensi-konsekuensi objektif. Walau dalam sejarah interaksi simbolis, Cooley dan Thomas merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya filosof George Herbert Mead, seorang warga Amerika awal abad ke-19 dan seangkatan dengan mereka, yang sering dianaggap sebagai sesepuh yang paling berpengaruh dari perspektif ini.[2]
2.2 Pokok Pikiran Teori Interaksionisme Simbolik Tentang Masyarakat
            Menurut blumer, pokok pikiran interaksi simbolik ada 3:
è Bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning). Maksudnya, manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut.
            Sebagai contoh, dalam film Kabayan, tokoh Kabayan sebenarnya akan memiliki makna yang berbeda-beda berpulang kepada siapa atau bagaimana memandang tokoh tersebut. Ketika Kabayan pergi ke kota besar, maka masyakat kota besar tersebut mungkin akan memaknai Kabayan sebagai orang kampung, yang kesannya adalah norak, kampungan. Nah, interaksi antara orang kota dengan Kabayan dilandasi pikiran seperti ini. Padahal jika di desa tempat dia tinggal, masyakarat di sana memperlakukan Kabayan dengan cara yang berbeda, dengan perlakuan lebih yang ramah. Interaksi ini dilandasi pemikiran bahwa Kabayan bukanlah sosok orang kampung yang norak.
            Once people define a situation as real, its very real in its consequences. Pemaknaan tentang apa yang nyata bagi kita pada hakikatnya berasal dari apa yang kita yakini sebagai kenyataan itu sendiri. Karena kita yakin bahwa hal tersebut nyata, maka kita mempercayainya sebagai kenyataan.
            Dalam contoh yang sama, ketika kita memaknai Kabayan sebagai orang yang kampungan, maka kita menganggap pada kenyataannya Kabayan memang adalah orang yang kampungan. Begitu pula sebaliknya.
è Makna itu berasal dari interaksi sosial seseorang dengan sesamanya. Maksudnya, Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Makna tidak bisa muncul ‘dari sananya’. Makna berasal dari hasil proses negosiasi melalui penggunaan bahasa (language)—dalam perspektif interaksionisme simbolik.
            Di sini, Blumer menegaskan tentang pentingnya penamaan dalam proses pemaknaan. Sementara itu Mead juga meyakini bahwa penamaan simbolik ini adalah dasar bagi masyarakat manusiawi (human society).
            Ketika kita menyebut Kabayan tadi dengan bahasa kampungan, konsekuensinya adalah kita menarik pemaknaan dari penggunaan bahasa ‘kampungan’ tadi. Kita memperoleh pemaknaan dari proses negosiasi bahasa tentang kata ‘kampungan’. Makna dari kata ‘kampungan’ tidaklah memiliki arti sebelum dia mengalami negosiasi di dalam masyarakat sosial di mana simbolisasi bahasa tersebut hidup. Makna kata kampungan tidak muncul secara sendiri, tidak muncul secara alamiah. Pemaknaan dari suatu bahasa pada hakikatnya terkonstruksi secara sosial
è Makna itu diperlukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative prosess), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Intinya, Blumer hendak mengatakan bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima seseorang, kecuali setelah individu itu menafsirkannya terlebih dahulu. [3]
2.3 Tokoh Utama Teori Interaksionisme Simbolik
        George Herbert Mead
            George Herbert Mead dilahirkan di South Hadley, Massachussetts, Amerika pada 27 Februari 1863, anak dari Hiram Mead dan Elizabeth Storrs Billings. George Herbert Mead dipandang sebagai tokoh utama dikalangan penganut interaksionisme terdahulu. Mead dipandang sebagai orang pertama yang menjelaskan doktrin filsafat interaksionisme simbolis yang benar-benar konsisten. George Herbert Mead adalah salah satu pencetus paham interaksi simbolis, dan ia mengemukakan bahwa makna atau pemahaman muncul dari proses interaksi manusia baik secara verbal maupun nonverbal. Melalui tindakan dan tanggapan, kita membentuk makna tentang suatu kata dan tindakan serta memahami suatu peristiwa tertentu.
            Mead menyatakan bahwa individu melakukan tindakan (dalam pikiran, abstrak ide) yang belum dapat diamati. Dalam otak, proses belajar mental bersifat tertutup sebelum dimulai tindakan sebenarnya (nyata, berupa perilaku, dapat dilihat). Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminology yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status, dll) dan pesan verbal (kata-kata, suara, dll) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlihat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk symbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant symbol). Mead tertarik mengkaji interaksi social, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan symbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh symbol yang diberikan orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melaui pemberia isyarat symbol, kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca symbol yang ditampilkan orang lain.
        Herbert Blumer
            Herbert Blumer lahir 7 Maret 1900, di St. Louis, Missouri. Ia bekarier di Fakultas Sosiologi pada Universitas Chicago tahun 1927-1952. Blumer adalah murid dari George H. Mead, yang juga mengajar di Universitas Chicago. Setelah Mead meninggal di tahun 1931, Blumer banyak mengganti posisi gurunya tersebut. Tidak heran jika gagasan Blumer banyak mengacu pada tradisi keilmuan yang telah dirintis oleh gurunya itu. Tidak main-main, waktu Blumer untuk mengembangkan gagasan Mead sampai 25 tahun. bahwa Blumer lebih banyak dipengaruhi oleh Mead dalam berbagai gagasan psikologi sosial-nya  mengenai teori interaksionisme simbolik. Kendatipun demikian, seorang blumer tetap memiliki kekhasan-kekhasan dalam pemikirannya, dan terutama ia mampu membangun suatu teori dalam sosiologi yang berbeda dengan “gurunya”,  Mead. Pemikiran blumer pada akhirnya memiliki pengaruh yang cukup luas dalam berbagai riset sosiologi. Bahkan blumer pun berhasil mengembangkan teori ini sampai pada tingkat metode yang cukup rinci.[4]


3.1 Kesimpulan
     Teori interaksi simbolik adalah tindakan sosial sebagai sebuah perilaku manusia pada saat person memberikan suatu makna subyektif terhadap perilaku yang ada dipengaruhi oleh struktur sosial yang membentuk atau menyebabkan perilaku tertentu yang kemudian membentuk simbolisasi dalam interaksi sosial masyarakat yang menuntut setiap individu mesti proaktif, refleksif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang unik, rumit dan sulit diinterpretasikan.
     Bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. Cara kerja teori ini berurusan dengan struktur-struktur sosial, bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan. Interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial.
     Inti dari teori ini dalam aplikasi kehidupan sehari-hari: Mencoba mengajarkan individu untuk selalu bersipat empati (memahami perasaan dan pikiran orang lain, mengerti, memahami, Memposisikan diri kita sesuai dengan apa yang sedang orang lain rasakan) Karena dengan seperi itu hubungan sosial akan terjalin dengan baik, dan akan banyak kebaikan yang terlahir karena ini, serta dunia ini akan damai.














DAFTAR PUSTAKA

Ritzer G. & Smart B, Handbook Teori Sosial, Bandung, Penerbit Nusa Media, 2011

PolamaMargaret, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1984



[1] George Ritzer & Barry Smart, Handbook Teori Sosial, Bandung, Penerbit Nusa Media, 2011, hal 428
[2] Margaret M. Polama, Sosiologi Kontemporer, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1984 hal 257-258
[3] https://yearrypanji.wordpress.com/2008/03/17/teori-interaksionisme-simbolik
[4] http://dpict92.blogspot.com/2012/04/teori-interaksionisme-simbolik.html