BAB I
PENDAHULUAN
I.
Latar Belakang
Masyarakat boleh jadi memang tidak pernah
“diam” , Masyarakat selalu bergerak, berkembang dan berubah. dinamika
masyarakat ini terjadi bisa karena faktor internal yang inheren melekat dalam
diri masyarakat.
Para ahli filsafat, sejarah, ekonomi dan
sosiologi telah mencoba untuk merumuskan prinsip-prinsip atau hukum-hukum
perubahan-perubahan sosial. Banyak yang berpendapat bahwa kecenderungan
terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan
hidup manusia.
Ahli lain berpendapat bahwa perubahan
sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan
keseimbangan masyarakat, seperti misalnya perubahan dalam unsur-unsur
geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. Kemudian, ada pula yang
berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat periodik dan
non-periodik. Pendapat-pendapat tersebut pada umumnya menyatakan bahwa
perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian.
Bhinneka Tungga Ika, berbeda-beda tetapi
satu jua. Perbedaan adalah pemersatu yang membentang dari Sabang sampai
Merauke. Bukan hanya gaya akan pemandangan alam nan hijau tetapi juga kaya akan
suku bangsa, ada ratusan suku bangsa di Indonesia salah satunya adalah Suku
Samin yang bermukim di daerah Jawa Tengah.
Observasi dilakukan di desa Karang Pace
Klopoduwur Kecamatan Banjar Rejo Kabupaten Blora Jawa Tengah pada hari Selasa
tanggal 22 September 2015.
II.
Rumusan Masalah
1.
Apa
itu Perubahan Sosial ?
2.
Siapa
itu Masyarakat Suku Samin ?
3.
Apa
sajakah bentuk-bentuk perubahan sosial yang sudah terjadi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perubahan Sosial
Perubahan sosial
adalah proses dimana terjadinya perubahan struktur dan fungsi suatu sistem
sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaharuan
yang diadopsi oleh para anggota sistem sosial yang bersangkutan.[1]
Proses terjadinya perubahan sosial biasanya terdiri dari tiga tahap yaitu :
1.
Invensi,
yakni proses di mana ideide baru diciptakan dan berkembang
2.
Difusi,
yakni proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial
3.
Konsekuensi,
yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat
pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika pengguna atau
penolakan ide baru itu mempunyai akibat.[2]
Perubahan sosial yang telah dikemukakan
oleh para ahli :
1.
Kingsley
Davis, mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi
dalam struktur dan fungsi masyarakat
2.
Mac
Iver, peubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial
atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan dalam hubungan sosial. Hubungan
antara anggota masyarakat dapat menimbulkan kerja sama ataupun perselisihan
yang menunjukan keseimbangan dalam hubungan sosial
3.
Gillin
dan Gillin, perubahan sebagi suatu variasi cara-cara hidup yang telah diterima,
baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materil,
komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan dalam masyarakat
4.
Soemardjan,
perubahan sosial meliputi segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga
kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya,
termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara
kelompok-kelompok dalam masyarakat
5.
Harper,
mendefinisikan perubahan sosial sebagai pengganti (perubahan) yang signifikan
mengenai struktur sosial daam kurun waktu tertentu[3]
B.
Suku Samin
1.
Masyarakat
Samin
Masyarakat
Samin adalah keturunan para pengikut Samin Seorontiko yang mengajarkan sedulur
sikep, dimana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam
bentuk lain di luar kekerasan.
Samin Seosantiko sering juga disebut
sebagai Raden Kohar. Ia masih berdarah bangsawan Majapahit yang hidup pada
zaman kolonial Belanda. Karena alasan tertentu memutuskan meninggalkan gemerlap
dunia kebangsawaan. Ia mendalami keilmuan spiritual yang saat itu sudah dimulai
diintervensi oleh kepentingan kelompok tertentu, khususnya oleh agama-agama
baru dan tata kehidupan kolonial. Mbah Samin mendalami sendiri nilai-nilai
luhur serta beladiri menentang penjajahan Belanda dan pada akhirnya mengajarkan
kepada murid-muridnya, begitu menoloknya sikap Mbah Samin terhadap tata
kehidupan saat itu, sehingga sampai kini orang lain mengatakan dasar orang
Samin pada tindak-tanduk serupa.
Bentuk yang dilakukan adalah menolak
membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial.
Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun 70-an,
mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai
Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah
dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua
wilayah, jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng
di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep,
karena kata Samin bagi mereka mengandung makna negatif.
2.
Pokok
Ajaran Saminisme
Orang
luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu tidak suka
mencuri, menolak membayar pajak dan menjadi bahan lelucon terutama dikalangan
masyarakat Bojonegoro. Pokok ajaran Samin diantaranya adalah :
a)
Agama
adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama,
oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama, yang
penting adalah tabiat dalam hidupnya.
b)
Bersikap
sabar dan jangan sombong.
c)
Manusia
hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya
satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal
tidaklah meninggal namun hanya menanggalkan pakaiannya.
d)
Bila
berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati.
e)
Berdagang
bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapa unsur “ketidak
jujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam berbentuk uang.
3.
Kebudayaan
Sabagaimana paham lain yang paham dianggap
oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga memiliki “kitab suci”. Kitab
Suci itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri dari beberapa buku, antara
lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi,
Serat Jati Sawit, Serat Lampahing Urip dan merupakan nama-nama kitab yang amat
populer dan dimuliakan oleh orang Samin.
Ajaran yang ada dalam buku Serat Pikukuh
Kasajaten (pengukuhan kehidupan sejati) ditulis dalam bentuk puisi tembang
yaitu genre puisi tradisional kesusasteraan jawa.
Dengan mempedomani kitab itulah, orang
Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap dengki srei,
tukar padu, dahpen kemeren. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah
“lakonan sabar. Sabare dieling-eling Trokali dilakoni”
4.
Sistem
Kekerabatan
Dalam
hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa
pada umumnya, sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama hanya saja mereka
tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah kakek
atau nenek.
Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin
maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan
melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin memiliki tradisi untuk
saling berkunjung terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun
tempat tinggalnya jauh.
5.
Upacara
dan Tradisi
Upacara-upacara tradisi yang ada pada
masyarakat Samin antara lain nyadran (bersih desa) sekaligus menguras sumber
air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat. Tradisi
selamatan yang berkaitan dengan daur hidup yaitu kehamilan, kelahiran,
khitanan, perkawinan dan kematian mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana.
Contoh salah satu tradisi yang ada pada Suku Samin adalah ketika malam Syuronan
(tahun baru hijriah) meraka mengadakan sedekah bumi.
6.
Pernikahan
Menurut
masyarakat Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu
merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja
(U)Tama” (anak yang mulia). Dalam ajaran Samin, dalam perkawinan seorang
pengantin laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih
demikian : “sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (kali ini) mengawini
seorang perempuan bernama...... saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama
telah kami jalani berdua”.
Dalam beberapa ajaran kepercayaan yang
diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih
dipatuhi warga Samin. Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah
walaupun yang menikahnya hanya orang pengantin.
7.
Sikap
terahadap lingkungan
Pandangan masyarakat Samin terhadap
lingkungan sangat positif mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu)
secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran
masyarakat Samin yang cukup sederhana tidak berlebih-lebihan dan apa adanya.
Tanah bagi mereka bagai Ibu sendiri, artinya tanah memberi mereka kehidupan
kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan
sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa saja yang akan ditanam)
mereka hanya berdasarkan musim saya yaitu penghujan an kemarau. Masyarakat
Samin menyadari isi dan kekanyaan alam habis atau tidak tergantung pada
pemakainya.
8.
Bahasa
Bahasa
yang mereka gunakan adalah Bahasa Jawa Ngoko dan bagi mereka menghormati orang
lain bukan hanya sekedar dari bahasa apa yang digunakan tetapi juga dengan
sikap dan perbuatan apa yang ditunjukan.[4]
C.
Perubahan Sosial Suku Samin dari Hasil Penelitian
Seiring
berkembangnya jaman dan kemajuan pengetahuan yang ada, selalu ada perubahan
yang menyertainyainya. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Samin ada beberapa
perubahan yang bisa kita lihat, antara lain :
1.
Teknologi
Dari sisi teknologi dengan seiring
berjalannya waktu dan berkembangnya zaman menyatakan bahwa masyarakat Samin
juga sudah mulai melakukan sebuah perubahan dari sisi materialnya. Yang
ditunjukan dengan bangunan rumah sudah seperti pada umumnya meski cuma hanya
beberapa saja dan sebagian besar masyrakat Samin sendiri sudah bisa menggunakan
berbagai macam alat teknologi seperti Handphone dan Laptop. Dan sebagian
masyarakatnya juga sudah ada yang memiliki sepeda motor, televisi dan
lain-lain. Disana juga sudah ada listrik Peralatan rumah tangga masih mix ada
yang modern dan ada yang tradisional.
2.
Pakaian
Pakaian masyarakat Samin dahulu cenderung
sering memakai baju kampret hitam dengan udeng untuk laki-laki dan tanpa alas
kaki untuk perumpuan mereka memakai kebaya tetapi itu tidak semua dan tidak
selalu memakai baju tersebut, dan masyarakat Samin sekarang sudah memakai kaos,
kemeja, rok, celana jins (lepis) dan alas kaki.
3.
Mata
Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat Samin adalah
bertani, berternak (sapi dan kambing). Dan seperti yang sudah ketahui bahwa
pada dahulunya masyarakat Samin tidak boleh berdagang dikarenakan mereka
percaya bahwa berdagang identik dengan ketidak jujurannya tetapi sekarang
masyarakat Samin sudah boleh untuk berdagang atau ikut bekerja dengan orang
lain dan ada juga yang anak merantau ke Jakarta.
4.
Pendidikan
Bagi sebagian besar masyarakat beranggapan
pendidikan adalah satu hal yang sangat penting untuk kehidupannya tetapi
berbeda bagi masyarakat Samin dahulu mereka beranggapan bersekolah adalah
bentuk kolonialisme Belanda dan para orang tua khawatir anaknya menjadi minteri
apalagi bagi para Samin perempuan, Mereka tidak bersekolah hanya membantu orang
tua di rumah dan di sawahnya. Tetapi tidak untuk sekarang mereka para anak-anak
sudah diperbolehkan untuk bersekolah
bahkan sudah ada yang menjadi sarjana.
5.
Membayar
Pajak
Masyarakat Samin terdahulu meraka selalu
menolak dan tidak mau untuk membayar pajak karena mereka beranggapan itu
sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap Kolonial Belanda. Tetapi sekarang
masyarakat Samin sudah mau membayar pajak.
6.
Kondisi
Fisik Desa
III.
Kesimpulan
Masyarakat Samin merupakan masyarakat yang
mempunyai ciri khusus yang menjadi identitas masyarakatnya dalam kehidupan
sehari-hari. Identitas inilah yang selalu dipertahankan oleh masyarakatnya
walaupun sudah banyak perubahan yang telah terjadi dalam ruang lingkup
masyarakat Samin sendiri ataupun dari masyarakat luar. Namun dengan
berkembangnya zaman masyarakat Samin dengan berbagai keunikan dan berkembangnya
ilmu pengetahuan yang yang dihadapi oleh mereka baik dari segi teknologi,
pendidikan, mata pecaharian dan lain sebagainya itu tidak akan merubah sistem
kekerabatan mereka karena mereka selalu menjaga sikap mereka sesuai dengan
pokok ajaran yang mereka percayai atau lakukan setiap hari. Perubahan bisa
dilihat dari segi internal ataupun eksternal. Faktor internal keinginan yang
hadir dari diri sendiri atau masyarakat Samin sendiri sedangkan faktor
eksternal mendapatkan pengaruh dari luar masyarakat Samin.
Perubahan yang terjadi pada masyarakat
Samin bisa dilihat dari berbagai aspek (fisik dan non fisik). Kemajuan
teknologi dan juga pengetahuan mereka juga sudah bisa dan mudah bagi sebagian
masyarakat Samin mereka juga menggunakan alat teknologi sebagai kebutuhan mereka
sehari-hari. Masyarakat Samin juga sudah ada yang mengenyam dunia pendidikan
sampai ke perguruan tinggi dan adapun yang sudah menjadi sarjana yang bisa
membimbing mereka demi kemajuan desa mereka.
DAFTAR
PUSTAKA
Elly M. Setiadi dan
Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan
Sosial : Teori, Aplikasi dan Pemecahanya, (Jakarta : Kencana, 2011)
Nanang Martono, Sosiologi
Perubahan Sosial, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012)
izin save min
BalasHapusMaaf min saya mau ke samin nih, ada cp nya atau semacamnya ga ya yg bisa membantu... mkasih min
BalasHapus