Rabu, 16 Desember 2015

PENGANTAR TEORI SOSIAL





Kerlinger (2000 : 14 -16) menjelaskan bahwa teori merupakan seperangkat konstruk (konsep), batasan, dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan memerinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala itu. Berdasarkan penjelasan tersebut maka suatu teori mengandung 3 hal sebagai berikut :
1.      Teori merupakan seperangkat proposisi yang terdiri atas konstruk-konstruk yang terdefinisikan dan saling terhubung.
2.      Teori menyusun antar hubungan seperangkat variabel (konstruk) dan merupakan suatu pandangan yang sistematis mengenai fenomena yang dideskripsikan oleh variabel-variabel itu.
3.      Teori menjelaskan tentang suatu fenomena. Penjelasannya dilakukan dengan cara menunjuk secara rinci variabel-variabel tertentu yang terkait dengan variabel-variabel tertentu lainnya. Penjelasan merupakan pernyataan-pernyataan mengenai hubungan fenomena-fenomena alami yang teramati sejauh yang menyangkut teori tersebut.

Dinamika teori sosial dalam konteks kekinian senantiasa dihadapkan pada suatu perdebatan yang panjang dan muncul beragam perbedaan. Namun demikian masih selalu menyisakan persoalan utama, dan menjadi masalah bersifat yang bersifat klasik. Ada beberapa persoalan tersebut diantaranya; apakah batasan dari dunia sosial ? apakah sifat yang paling fundamental dari dunia sosial ? apa jenis analisis sifat yang paling memungkinkan dan  / atau tepat ? (Anthony Giddens dan Jonathan H. Turner , editor , 2008: xvii)

Secara umum, kekuatan sebuah teori terletak pada kemampuannya untuk membawa ide besar pemikiran yang terorganisir dan informasi yang berkaitan dengan suatu masalah spesifik (W. Skidmore).

Ide teori sosial dibentuk melalui perdebatan intelektual yang besar tentang sifat dan tingkat rasionalitas manusia, pertumbuhan dan konsekuensi dari industrialisme, statika sosial versus keniscayaan perubahan, hubungan antara karakter manusia dan struktur sosial (W. Skidmore).

Empat kategori teori berdasar kegunaan untuk memecahkan masalah teoritis:
1.      Teori memunculkan ide-ide tambahan dalam hal pemecahan suatu masalah teoritis.
2.      Teori mengusulkan model-model masalah utama, semacam bentuk hasil pendeskripsian yang sistematis. Deskripsi tersebut sebagai suatu pola dimana ide ditempatkan dengan tepat dan jelas.
3.      Analisis kritis atas teori dapat menghasilkan teori baru.
4.      Teori bisa menhasilkan hipotesa-hipotesa.

Cara menentukan tipe – tipe teori sosial
1.      Salah satu cara mengklasifikasikan teori adalah berdasar waktu, kapan teori dikembangkan dan digunakan secara meluas.  (pendekatan historis)
  1. Mengelompokkan teori berdasar negara dimana teori dikembangkan dan digunakan secara meluas. (pendekatan area)
  2. Mengelompokkan berdasar ide-ide pokok atau asumsi-asumsi, gunanya untuk menunjukkan bagaimana kelompok teoritis yang ada berbeda dengan kelompok lain. Misalnya pengelompokan teori Marx dengan teori Darwin, tidak dengan teori Simmel.(pendekatan tokoh)
  3. Pengklasifikasian berdasarkan pendefinisian dengan tepat. Esensinya adalah pengelompokan dilakukan berdasar pendekatan yang sama dalam mendefinisikan “sosial”. Teori yang mendefinisikan dan menjelaskan dalam cara yang sama ditempatkan bersama. (pendekatan berdasarkan pendekatan)

Teori sosial dapat dipahami dalam tiga dimensi (Ian Craib, 1992: 26-28). Ketiga dimensi tersebut sangat berbeda, namun seringkali ahli-ahli teori menggunakan ketiganya dalam waktu yang sama. Adapun ketiga teori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Dimensi kognitif, merupakan dimensi yang menjelaskan bahwa teori sebagai salah satu cara untuk membangun ilmu pengetahuan mengenai dunia sosial.
2.      Dimensi afektif, merupakan dimensi yang menjelaskan bahwa teori melingkupi pengalaman dan berbagai perasaan dari pembuatnya, dan setiap perdebatan teoritis mengandung argumen-argumen yang lebih dari sekedar argumen rasional. Dimensi kedua tidak bisa dihubungkan dengan keterpilahan teori, bahkan adanya argumen-argumen yang lebih dari rasional dapat menghambat perkembangan teori. Atau kadang terlalu berlebihan dalam memberikan penekanan terhadap perbedaan-perbedaan.
3.      Dimensi normatif, menjelaskan tentang keterpilahan ( fragmentasi ) atas suatu teori. Setiap teori tentang dunia haruslah secara eksplisit dan implisit mengandung asumsi-asumsi mengenai keadaan dunia yang sebenarnya. Sebuah teori hendaknya memiliki fleksibilitas, sehingga selalu terbuka untuk diperbincangkan dengan berbagai macam argumen, dalam segala situasi dan perubahan terus menerus dalam kehidupan sosial politik yang memungkinkan teori berkembang atau berubah.  

Fokus perhatian atau pokok kajian teori sosial sangat kompleks, diantaranya (George Ritzer, dan Douglas J. Goodman, 2003: 4) ;
1.      Dunia modern adalah sebuah sangkar besi sistem rasional dimana tidak ada lubang untuk keluar darinya.
2.      Kapitalisme cenderung menaburkan bibit kehancuran dirinya sendiri.
3.      Kohesi moral dunia modern lebih lemah dibandingkan dengan masyarakat tradional.
4.      Kehidupan perkotaan melahirkan tipe kepribadian khusus.
5.      Kehidupan sosial perkotaan, diilustrasikan menggunakan berbagai tindakan teatrikal.
6.      Dunia sosial ditentukan oleh prinsip-prinsip hubungan timbal balik dalam bentuk memberi dan menerima.
7.      Manusia menciptakan dunia sosial yang pada hakikatnya justru memperbudak mereka sendiri.
8.      Manusia selalu memelihara kapasitas untuk mengubah dunia sosial yang membelenggu mereka.
9.       Masyarakat adalah sebuah sistem yang terintegrasi dari struktur dan fungsi sosial.
10.  Masyarakat adalah sebuah “juggernaut” yang senantiasa berpeluang mengamuk.
11.  Liberalisasi Dunia Barat telah menjadikannya semakin opresif.
12.  Dunia yang memasuki era post-modern didefinisikan berdasarkan atas ketidakautentikannya, kepalsuannya, dan simulasi realitasnya.
Dalam ilmu sosial tingkatan analisa utamanya ada 3, dapat dilihat dalam matriks tabel sebagai berikut ;
Tabel tentang Tingkatan Analisa Utama Ilmu Sosial
TINGKAT ANALISA
POKOK KAJIAN
SUB POKOK KAJIAN
Tingkat Analisa Luas
1.      Pola-pola budaya



2.      Struktur sosial
-     Nilai-nilai / norma-norma.
-     Pandangan hidup.
-     Makna budaya.
-     Sistem simbol.

-     Besaran struktur sosial.
-     Sosialisasi dan interaksi sosial.
-     Sistem pembagian kerja.
-     Derajat konsensus.
-     Tipe kekuasaan dan struktur otoritas.
Tingkat Analisa Hubungan antarpribadi
Pola-pola hubungan antar pribadi.
-     Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan antar pribadi.
-     Intensitas dan frekuensi hubungan antar pribadi.
-     Kerjasama antar pribadi.
-     Konflik antar pribadi.
Tingkat Analisa Individu
Dinamika individu
-     Persepsi dan motivasi perilaku.
-     Karakteristik pribadi.
-     Orientasi subyektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar