Kerlinger (2000 : 14 -16) menjelaskan bahwa teori merupakan
seperangkat konstruk (konsep), batasan, dan proposisi yang menyajikan suatu
pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan memerinci hubungan-hubungan
antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala itu.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka suatu teori mengandung 3 hal sebagai
berikut :
1. Teori
merupakan seperangkat proposisi yang terdiri atas konstruk-konstruk yang
terdefinisikan dan saling terhubung.
2. Teori
menyusun antar hubungan seperangkat variabel (konstruk) dan merupakan suatu
pandangan yang sistematis mengenai fenomena yang dideskripsikan oleh
variabel-variabel itu.
3. Teori
menjelaskan tentang suatu fenomena. Penjelasannya dilakukan dengan cara
menunjuk secara rinci variabel-variabel tertentu yang terkait dengan variabel-variabel
tertentu lainnya. Penjelasan merupakan pernyataan-pernyataan mengenai hubungan
fenomena-fenomena alami yang teramati sejauh yang menyangkut teori tersebut.
Dinamika teori sosial
dalam konteks kekinian senantiasa dihadapkan pada suatu perdebatan yang panjang
dan muncul beragam perbedaan. Namun demikian masih selalu menyisakan persoalan
utama, dan menjadi masalah bersifat yang bersifat klasik. Ada beberapa
persoalan tersebut diantaranya; apakah batasan dari dunia sosial ? apakah sifat
yang paling fundamental dari dunia sosial ? apa jenis analisis sifat yang
paling memungkinkan dan / atau tepat ? (Anthony
Giddens dan Jonathan H. Turner , editor , 2008: xvii)
Secara umum, kekuatan
sebuah teori terletak pada kemampuannya untuk membawa ide besar pemikiran yang
terorganisir dan informasi yang berkaitan dengan suatu masalah spesifik (W.
Skidmore).
Ide teori sosial dibentuk melalui perdebatan intelektual yang besar tentang sifat dan tingkat rasionalitas
manusia, pertumbuhan dan
konsekuensi dari industrialisme,
statika sosial versus
keniscayaan perubahan, hubungan antara karakter manusia dan struktur sosial (W. Skidmore).
Empat kategori teori
berdasar kegunaan untuk memecahkan masalah teoritis:
1. Teori memunculkan ide-ide tambahan dalam hal pemecahan suatu
masalah teoritis.
2. Teori mengusulkan model-model masalah utama, semacam bentuk hasil
pendeskripsian yang sistematis. Deskripsi tersebut sebagai suatu pola dimana
ide ditempatkan dengan tepat dan jelas.
3. Analisis kritis atas teori dapat menghasilkan teori baru.
4. Teori bisa menhasilkan hipotesa-hipotesa.
Cara menentukan tipe –
tipe teori sosial
1.
Salah
satu cara mengklasifikasikan teori adalah berdasar waktu, kapan teori
dikembangkan dan digunakan secara meluas.
(pendekatan historis)
- Mengelompokkan teori berdasar negara dimana teori dikembangkan dan digunakan secara meluas. (pendekatan area)
- Mengelompokkan berdasar ide-ide pokok atau asumsi-asumsi, gunanya untuk menunjukkan bagaimana kelompok teoritis yang ada berbeda dengan kelompok lain. Misalnya pengelompokan teori Marx dengan teori Darwin, tidak dengan teori Simmel.(pendekatan tokoh)
- Pengklasifikasian berdasarkan pendefinisian dengan tepat. Esensinya adalah pengelompokan dilakukan berdasar pendekatan yang sama dalam mendefinisikan “sosial”. Teori yang mendefinisikan dan menjelaskan dalam cara yang sama ditempatkan bersama. (pendekatan berdasarkan pendekatan)
Teori sosial dapat dipahami dalam tiga dimensi
(Ian Craib, 1992: 26-28). Ketiga dimensi tersebut sangat berbeda, namun seringkali
ahli-ahli teori menggunakan ketiganya dalam waktu yang sama. Adapun ketiga
teori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.
Dimensi
kognitif, merupakan dimensi yang menjelaskan bahwa teori sebagai salah satu
cara untuk membangun ilmu pengetahuan mengenai dunia sosial.
2.
Dimensi
afektif, merupakan dimensi yang menjelaskan bahwa teori melingkupi pengalaman
dan berbagai perasaan dari pembuatnya, dan setiap perdebatan teoritis
mengandung argumen-argumen yang lebih dari sekedar argumen rasional. Dimensi
kedua tidak bisa dihubungkan dengan keterpilahan teori, bahkan adanya
argumen-argumen yang lebih dari rasional dapat menghambat perkembangan teori.
Atau kadang terlalu berlebihan dalam memberikan penekanan terhadap
perbedaan-perbedaan.
3.
Dimensi
normatif, menjelaskan tentang keterpilahan ( fragmentasi ) atas suatu teori.
Setiap teori tentang dunia haruslah secara eksplisit dan implisit mengandung
asumsi-asumsi mengenai keadaan dunia yang sebenarnya. Sebuah teori hendaknya
memiliki fleksibilitas, sehingga selalu terbuka untuk diperbincangkan dengan
berbagai macam argumen, dalam segala situasi dan perubahan terus menerus dalam
kehidupan sosial politik yang memungkinkan teori berkembang atau berubah.
Fokus perhatian atau pokok kajian teori sosial sangat kompleks, diantaranya
(George Ritzer, dan Douglas J. Goodman, 2003: 4) ;
1.
Dunia
modern adalah sebuah sangkar besi sistem rasional dimana tidak ada lubang untuk
keluar darinya.
2.
Kapitalisme
cenderung menaburkan bibit kehancuran dirinya sendiri.
3.
Kohesi
moral dunia modern lebih lemah dibandingkan dengan masyarakat tradional.
4.
Kehidupan
perkotaan melahirkan tipe kepribadian khusus.
5.
Kehidupan
sosial perkotaan, diilustrasikan menggunakan berbagai tindakan teatrikal.
6.
Dunia
sosial ditentukan oleh prinsip-prinsip hubungan timbal balik dalam bentuk
memberi dan menerima.
7.
Manusia
menciptakan dunia sosial yang pada hakikatnya justru memperbudak mereka
sendiri.
8.
Manusia
selalu memelihara kapasitas untuk mengubah dunia sosial yang membelenggu
mereka.
9.
Masyarakat adalah sebuah sistem yang
terintegrasi dari struktur dan fungsi sosial.
10. Masyarakat adalah sebuah “juggernaut” yang senantiasa berpeluang
mengamuk.
11. Liberalisasi Dunia Barat telah menjadikannya semakin opresif.
12. Dunia yang memasuki era post-modern didefinisikan berdasarkan atas
ketidakautentikannya, kepalsuannya, dan simulasi realitasnya.
Dalam ilmu sosial tingkatan
analisa utamanya ada 3, dapat dilihat dalam matriks tabel sebagai berikut ;
Tabel
tentang Tingkatan Analisa Utama Ilmu Sosial
|
TINGKAT ANALISA
|
POKOK KAJIAN
|
SUB POKOK KAJIAN
|
|
Tingkat Analisa Luas
|
1.
Pola-pola
budaya
2.
Struktur
sosial
|
-
Nilai-nilai
/ norma-norma.
-
Pandangan
hidup.
-
Makna
budaya.
-
Sistem
simbol.
-
Besaran
struktur sosial.
-
Sosialisasi
dan interaksi sosial.
-
Sistem
pembagian kerja.
-
Derajat
konsensus.
-
Tipe
kekuasaan dan struktur otoritas.
|
|
Tingkat Analisa Hubungan antarpribadi
|
Pola-pola hubungan antar pribadi.
|
-
Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya hubungan antar pribadi.
-
Intensitas
dan frekuensi hubungan antar pribadi.
-
Kerjasama
antar pribadi.
-
Konflik
antar pribadi.
|
|
Tingkat Analisa Individu
|
Dinamika individu
|
-
Persepsi
dan motivasi perilaku.
-
Karakteristik
pribadi.
-
Orientasi
subyektif.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar